Cara Menyimpan Daging Agar Tetap Segar dan Tahan Lama


Di saat ini keperluan konsumsi daging meningkat. Tak heran harga daging sering kali terus melonjak.
Untuk menghindari harga daging yang terus melonjak, banyak sekali orang menyimpan daging guna persiapan kebutuhan konsumsi mereka sekeluarga.

Namun, Anda mesti tahu, menyimpan daging jangan sembarangan, supaya nutrisinya tak hilang, dan kesegarannya terjaga serta terhindar dari bakteri.
Oleh karena itu, Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Gadjah Mada (UGM) pun memberikan beberapa teknik menyimpan daging secara benar untuk masyarakat.

Hal itu dilakukan dengan estimasi meningkatnya keperluan masyarakat akan daging segar.

Kepala Laboratorium Ilmu dan Teknologi Daging Fakultas Peternakan UGM, DR. Jamhari, M.,mengatakan masyarakat mesti tahu, bagaimana teknik menyimpan daging yang benar.

“Meningkatnya harga-harga keperluan pokok, seperti daging paling memberatkan masyarakat. Karena itu, butuh diupayakan kiat dalam menyimpan daging secara benar,” ujarnya.

Ia menyampaikan beberapa teknik menyimpan daging secara benar supaya kondisi daging yang dibeli masyarakat tidak rusak.

Pertama, masyarakat mesti mengenali daging yang baik. Sebelum menyimpan daging, kata dia, sebaiknya masyarakat mengenali terlebih dahulu daging yang baik.

Secara umum, daging yang sehat berwarna merah segar, tidak berlendir, dan mempunyai aroma khas daging. Apabila daging telah mengalami perubahan warna yang tidak semestinya, daging itu tidak pantas untuk dikonsumsi.

“Kalau daging berwarna gelap, dapat disebabkan ternak tidak cukup diistirahatkan sebelum dipotong. Proses istirahat dibutuhkan karena memengaruhi warna dan keempukan daging,” ujar Jamhari.

Kedua, menyimpan daging dalam plastik food grade. Sebelum dimasukkan ke kulkas, dianjurkan daging dipotong-potong sesuai takaran konsumsi. Sehingga, saat akan mengolahnya daging tidak perlu dikeluarkan semua.

Usahakan daging dimasukkan ke dalam plastik transparan yang termasuk food grade dan hindari menyimpan daging dalam kantong plastik berwarna-warni.

“Tidak disarankan untuk memasukkan lagi ke dalam kulkas daging beku yang telah dikeluarkan sampai lunak. Dalam situasi seperti ini mikroba semakin merajalela dan dapat mempercepat proses pembusukan.”

Ketiga, masukkan dan keluarkan daging secara bertahap. Setelah sapi dipotong, akan terjadi kontraksi atau ‘rigor mortis pada daging. Sebaiknya kontraksi ini dinantikan hingga selesai, lantas daging dimasukkan ke dalam kulkas.

Daging dimasukkan ke dalam kulkas secara bertahap, yaitu ditaruh di refrigerator terlebih dahulu sekitar 24 jam. Kemudian, pindahkan daging ke dalam freezer. Hal ini guna menghindari temperature shock yang dapat mengakibatkan daging alot.

Selanjutnya, saat mengeluarkan daging dari kulkas, juga dianjurkan untuk dilakukan secara bertahap.

Yaitu pindahkan daging dari freezer ke refrigerator kulkas dan biarkan hingga mencair. Setelah itu, keluarkan daging dari refrigerator dan daging bisa dimasak.

Keempat, sisihkan daging dan jeroan, sebab jeroan lebih cepat rusak dikomparasikan dengan daging, sehingga dianjurkan untuk menyimpan di freezer yang berbeda.

“Jeroan dan daging mesti diletakan dalam freezer yang berbeda untuk menghindari adanya kontaminasi silang. Meskipun daging disimpan dalam wadah yang berbeda tetapi masih dalam satu freezer, maka akan terjadi kontaminasi silang secara tidak langsung.”

Kelima, simpan daging dengan suhu yang tepat. Sebab daging yang disimpan di refrigerator hanya bisa bertahan 3-4 hari. Di dalam freezer pada temperatur di bawah -180C daging bisa bertahan sampai enam bulan dengan tidak terjadi perubahan dari segi nutrisi.

Temperatur -180C mengakibatkan seluruh air di dalam daging membeku sampai-sampai tidak bisa dimanfaatkan mikroba untuk berkembang.

Dengan memerhatikan beberapa teknik di atas mengenai kiat-kiat menyimpan daging secara benar, agar kesehatan masyarakat tetap terjaga.

Source
Load disqus comments

2 komentar

loading...